Langsung ke konten utama

Postingan

MARI PULANG

 Pulang menjadi tujuan kita Akhir dari perjalanan panjang Kata mereka yang punya perjalanan sama denganku Telah jauh jiwa kita beranjak Ternyata tiada tempat yang benar-benar tepat  Selalu rumah yang menunggu kita kembali Raga yang selalu membawa kita berkelana  Nyatanya tiada jalan yang memberi tetap Rumah selalu saja menanti kepulangan Sepertinya sudah saatnya untuk pulang Biarlah kisah kita bumi yang merekam Dengan disaksikan setiap sudut-sudut bagiannya Langkah mengukir jejak begitu dalam Pandang mengukur penglihatan begitu luas Hingga kita lupa apa yang dituju Mari memilih pulang Menidurkan diri dalam pelukan Melupakan segala suka duka yang di perjuangkan

Menanti Fajar

Kala itu sang malam mulai lenyap. Dia datang dengan menyapa pagi dari langit sebelah timur. Bersama matahari terbit di antara cela-cela langit gelap. Kedatangannya sudah bisa ditebak. Melalui terangnya yang nyata. Selalu saja ia memberi kesan pada pandang untuk mengenang. Dia yang selalu saja membayar janjinya. Menyapa dengan caranya sendiri. Mempertaruhkan cahaya untuk hari, menghangatkan sanubari, dan meluk hati yang beku. Aku yang selalu menantinya meski dia yang selalu berganti. Tetapi tak pernah berubah karena tahu aku bertaruh rindu untuknya. Menunggu di antara malam yang panjang.  Harap yang selalu kutaruh untuknya adalah kembali esok hari. Menyapa lagi dengan rindunya sampai aku lupa untuk berpaling. Bahwa kita telah dimakan oleh waktu. Begitulah kami yang saling menanti. Perjalanan panjang untuk hanya sekadar menyapa lagi. Hingga ia yang harus kembali di jemput oleh gelap sang malam nanti.

MERATAPI

  Saat malam yang larut Pada sudut kesamaran Di dalam kehampaan Dan aku ad di sana Masih di sana Di tempat yang sama Merenungi nasib sang diri Menyaksikan hidupku yang malang Akankah aku tetap di sana ? Dengan jarum jam yang terus berdenting  Dan hati yang masih tak tentu Walau dinginnya sang malam Aku ingin berlari Mencari diriki yang sebenarnya Menemukan sosok yang hilang dalam kekhilafan Dan hidup kembali seperti manusia Aku tak ingin lagi menutup mata Berpura-pura bisu, tuli, dan lumpuh.  Aku tak mau lagi dijadikan orang berkalang tanah Hidup dalam sepi dan belas kasih orang Mungkin takdirku saja yang berbeda Tapi aku bodoh jika menyesali itu Mengalah pun tak guna Apalagi merintih Meski sang diri menangis  Karena takut pada duri  Tetap kutapakkan kakiku di atasnya Mengikuti garis hidup sang ilahi

Dari Renjani

  Bagi renjani tidak ada cinta yang sia-sia Selayaknya kata yang hadir dengan  sejuta makna Selalu ada ingin untuk setiap harap yang hadir  Dititipkannya bersama rindu tanpa batas Melalui  lembar bukunya yang ditulis Tetapi tidak dapat disuarakannya begitu saja Renjani terus berjalan pada rasanya Bersama kertas dan pena yang selalu dibawanya Untuk menuliskan besar cinta pada harapannya Hingga ia menemukan bahwa ternya lilinpun dapat padam  Sebab terlalu lama memberikan penerangan Kemudian tanpa sadar lenyap memberikan  gelap Semakin terdalam ternyata renjani semakin terluka  Renjani menitipkan pesan untuk terus berjalan Meski melewati rasa yang berantakan itu Dalam akhir lembarannya tertuliskan kata “Pamit” Ternyata rasa itu hanya sebatas tulisan dari renjani Teruntuk harapnya yang tak bisa disuarakan

Malam Panjang

Biar saja aku bersama Larut. Tak perduli waktu terus berganti. Aku ingin malam menjadi panjang kala itu. Meski hanya untuk diriku saja. Banyak kata yang harus langit dengar dari ku. Berkisah pada bulan dan bintang. Membawaku ingin selalu memeluk kehangatan pada sunyi saat itu. Sajak demi sajak ku ternyata didengar oleh alam. Hembusan angin yg tenang seakan membawa setiap tuturku. Entah sampai mana setiap makna itu berhenti nantinya. Sebab perjalanan jiwa pada malam yang panjang itu ternyata masih ingin bertahan. Baginya tidak ada lagi tempat berlabu untuk sanubari. Pelayaranku ternyata membawa pada semesta yang tak berujung. Aku membawa raga mengarungi jalan dalam inginku. Biarlah hanya ragaku yang menjadi saksi dari perjalanan itu. Perjalanan panjang melewati malam. Melalui keinginan untuk menembus semesta. Mencari ujung dari angkasa. Sampai jiwa menemukan tempat untuknya berpulang.

Derai Hujan

Rintik hujan jatuh dengan bernada. Aku melewatinya dengan penuh keriaan. Meski percikannya yang kian menderas diri. Setetes hujan ternyata memberi kita kenangan. Mereka bilang hujan itu menyenangkan. Dia dapat membawa rindu yang dulu pernah ada.  Makna hujan begitu dalam bagi setiap orang. Berteduh darinya bahkan membawa cerita dulu yang sendu. Rintiknya menghanyutkan jiwa.  Menyesatkan raga dalam alirnya. Dan membawa suka dalam diri. Pikirku, mungkin langit sedang rindu dengan buminya. Hingga akhirnya ia  memutuskan untuk melepaskan kerinduan itu. Lewat tetes-tetes hujan yang diberinya. Bumi pasti bahagia dengan cara langit menyampaikan rindu. Baginya, meski kata tak terucap. Namun, selaksa makna telah terjawab sudah.

Sang Waktu

Dirimu yang saat ini lapuk dalam perih. Coba disapa waktu untuk tidak melirih lagi. Kasihan diri yang sedang berluka itu.  Dukanya begitu dalam untuk dijawab  waktu. Sendiri meratap diri. Meski sang waktu terus bergilir. Dia selalu hanyut dalam dirinya. Harapnya tak lagi berpihak. Arahnya tak lagi ada. Inginnya menghilang begitu saja. Bahkan asanya tak lagi disini.  Perihal pilu siapa yang mau. Tak ada yang menginginkan sunyi. Sepi dalam kelaraannya. Pasti selalu ada kehampaan yang menjadi ruang. Malangnya ternyata telah abadi. Haru itu tak lagi bisa pulih. Sebab jiwanya diselimuti nestapa yang dalam. Sang waktu hanya meminta untuk berlindung sekejap. Bersama hari yang terus berlalu. Pasti selalu akan ada rasa yang berlarut juga. Waktu saat ini hanya bisa berjanji padanya. Pada dirinya yang berduka. Pasti akan ada pulih yang datang. Bersama rasa yang akan menyembuhkan deritanya.