Tuhan,,, “Tidurkan aku dengan lelap pada malam yang gelap ini “ Hari-hari kujalani dengan kerasnya, h ingga terangnya siang tak lagi semenenagkan dulu. Begitu menakutkan meski hanya kembali terbangun pada dini hari. Seandainya tertidur selamanya bisa jadi pilihan, mungkin itu adalah inginku. Tuhan,,,, “Lelapkan aku bersama mimpi yang bisa menyenyakkan tidur’’ Tidak perduli malam mulai merangkak menutupi diri. Se tidaknya ia lebih menenagkan dari pada sentuhan siang y ang menggorogoti bukan hanya raga tapi juga jiwa. Hingga rasanya pilihan untuk mengakhiri hari bagaikan bayangannya. Tuhan,,, “Bangunkan saja aku jika takdirku memang sudah begitu adanya” Panjatkanlah aku pada doa-doa yang telah terucap itu. Kabulkan lah doa pada sebelum tidur ku. Aku,,, tetap menunggu siang dan bayangannya yang memberi tenang. Sampai nanti, mengakhiri hari bukan lagi inginku.
Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.