Langsung ke konten utama

Postingan

Doa Sebelum Tidur

Tuhan,,, “Tidurkan aku dengan lelap pada malam yang gelap ini “ Hari-hari kujalani dengan kerasnya, h ingga terangnya siang tak lagi semenenagkan dulu. Begitu menakutkan meski hanya kembali terbangun pada dini hari.  Seandainya tertidur selamanya bisa jadi pilihan, mungkin itu adalah inginku. Tuhan,,,, “Lelapkan aku bersama mimpi yang bisa menyenyakkan tidur’’ Tidak perduli malam mulai merangkak menutupi diri. Se tidaknya ia lebih menenagkan dari pada sentuhan siang y ang menggorogoti bukan hanya raga tapi juga jiwa. Hingga rasanya pilihan untuk mengakhiri hari bagaikan bayangannya. Tuhan,,, “Bangunkan saja aku jika takdirku memang sudah begitu adanya” Panjatkanlah aku pada doa-doa yang telah terucap itu.  Kabulkan lah doa pada sebelum tidur ku. Aku,,, tetap menunggu siang dan bayangannya yang memberi tenang.  Sampai nanti, mengakhiri hari bukan lagi inginku. 
Postingan terbaru

Jangan Tinggalkan Aku, Tuhan

Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.

Ranting-ranting Patah

Aku ada di antara dahan-dahan yang hampir rapuh dihabisi masa. Seandainya waktuku tiba, maka habislah diriku binasa. Tak ada umur abadi yang ku doakan di antara renungan malam. Bukan lagi aku yang menjadi tempat burung-burung hinggap. Helai-helai daunku jatuh berguguran dinanti tanah. Sedang aku, bukan lagi rindang yang mereka kenal.  Di antara perkara-perkara semesta, aku adalah ciptaan Tuhan yang mudah lapuk. Lagi-lagi aku merenung pada malam yang tak berujung. Berharap aku adalah makhluk yang juga suci di dunia.  Pada gemuruh riuh angin yang menyentuhku dan rintik hujan yang selalu jatuh membasahiku. Benarkah aku hanya akan menjadi ranting-ranting yang kemudian patah ? Pengharapanku belum habis terucap meminta, sesungguhnya tak sanggup aku menemui kematian. Namun, jika pada akhirnya aku patah, mungkinkah dunia akan sukar melepas kepergianku, sang ranting-ranting rapuh ciptaan-Nya. 

KENANGAN DI KALA SENJA

  Ketika matahari mulai meredup,  senja menari-nari dalam keheningan. Waktu berjalan perlahan memeluk cakrawala. Di situlah puisi alam terukir dalam jingga. Angin sepoi-sepoi membisik rahasia,  daun-daun berguguran, merentangkan perpisahan. Di kejauhan burung-burung bernyanyi untuk mengantar senja berganti malam. Cinta pun bersemi di antara bayangan. Di bawah langit yang memerah. Setiap senja adalah janji keabadian, Kenangan indah yang tak lekang oleh waktu.

PEREMPUAN

  Kamu perempuan, tidak perlu berpendidikan  tinggi. Apalagi berpengetahuan luas nikmatilah dapurmu. Kamu perempuan, duniamu sempit saja. Sebatas katak dalam tempurung ; tidak perlu keluar berkelana. Terdengar seperti kutukan bukan ? Tapi,  aku,  kamu, kita memang perempuan. Dari rahimku, rahimmu, terdapat nyawa berkehidupan. Kodrat yang katanya milik kita, lantas kenapa kita tak bisa hidup dengan layak.  Tapi, aku, kamu, kita memang perempuan. Bebas memanglah bukan milik kita. Sejak kapan kita dikutuk begini ? Hidup bagai dipenjara,  dipasung, dan dirantai oleh  dunia. Masih seperti itukah, kemerdekaan perempuan yang telah  dikorbankan oleh Kartini kita ? “Habis gelap terbitlah terang” Maukah kamu wahai perempuan sekalian mengikrarkan kembali kemerdekaan itu ? Aku, kamu, kita semua perempuan   dengan ini mengikrarkan kembali. Kemerdekaan perempuan untuk tanah air Indonesia.

Puisi Sang Penyair

Kukirimkan sepotong sajak teruntuk dirimu ; Dinda lewat angin sore terhunus di antara udaranya semoga saja dapat terdengar olehmu dari bisik samar-samarnya. Setengah mati aku menciptanya di antara rindu yang mengobrak-abrik perasaan mehantui jiwa dikala raga tak bisa bertemu dan hanya bisa diwakilkan oleh sepotong sajak ini. Selepas sore yang kemudian mendatangkan malam masih saja ada sajakku yang tercipta untukmu ; Dinda. Belum berakhir dan tidak habis terucap rinduku meski waktu-waktu terus memakannya. Kutitipkan lagi pada angin malam sajakku yang tercipta teruntuk dirimu di tengah kekalutan menikmati terpaan kerisaun yang semoga saja besok segera mereda.

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.