Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2023

PEREMPUAN

Kamu perempuan,,, Tidak perlu berpendidikan tinggi Apalagi berpengetahuan luas Nikmatilah dapurmu Kamu perempuan,,, Duniamu sempit saja Sebatas katak dalam tempurung Tidak perlu keluar berkelana Terdengar seperti kutukan bukan ? Tapi,,, aku,,, kamu,,, Kita memang perempuan Dari rahimku, rahimmu, terdapat nyawa berkehidupan Kodrat yang katanya milik kita Lantas, kenapa kita tak bisa hidup dengan layak  Tapi,, aku,, kamu,,  Kita memang perempuan,,, Bebas memanglah bukan milik kita Sejak kapan kita dikutuk begini ? Hidup tapi bagai terpenjara, dipasung, dan dirantai oleh  dunia Masih seperti itukah kemerdekaan perempuan yang telah dikorbankan oleh Kartini kita ? “Habis gelap terbitlah terang” Maukah kamu wahai perempuan sekalian Mengikrarkan kembali kemerdekaan itu ? Aku, kamu, kita semua  perempuan  dengan ini mengigkrarkan Kemerdekaan para perempuan dengan menjunjung tinggi hak dan kesempatan yang sama Untuk diri kita, untuk bangsa kita, dan untuk tanah air kita ...

SAJAK DINI HARI

   Dari waktu yang membantu  membangkitkan jiwa karena terlelap Diantara tabir gelap yang menghadirkan fajar secara perlahan Menyadarkan kita makhluk-makhluk bumi dari tidur yang panjang  Sayup-sayup mulai terdengar suara yang sudah biasa datang pada saat itu Memeluk erat tubuh hingga benak para umat-umat yang taat  Menjadikannya sebuah panggilan dari sang pemilik waktu Meskipun, mungkin bumi  masi tetap sunyi dan senyap Dari kebanyakan makhluk-makhluknya masih terlelap begitu dalam Karena mengira belum waktunya untuk membangunkan diri dari tidur Padahal permulaan hari telah dimulai Ditandakannya dengan waktu-waktu yang menunjukkan dini hari Mungkinkah kelalaian ini akan abadi bersemayam dalam diri ? Padahal sajadah sudah siap tergerai menunggu lantunan dzikir-dzkir makhluk bumi Menanti kedua sujud dan uluran telapak tangan para umat Diantara dini hari yang senantiasa bersimpuh pada sajak-sajak untuk Tuhan 

Nyanyian Para Pelayar

  Lambaikan tanganmu untuk daratan  Perjalanan berlayar akan segera dimulai Jangkar kita tak lagi menancap  Karena raga kita akan mulai menjemput badai Jadikanlah pelayaran ini bak pertempuran dengan diri Biar ragamu tau betapa dalam lautnya Dan betapa luas langitnya  Agar kita tak mudah sirna sebagai makhluk yang lalai Biarkan debur ombak kesana kemari memainkan kapalmu Melululantahkan jiwamu yang angkuh  Mengira penguasa ternyata tak memiliki kuasa Tidak mampu sadar bahwa diri bisa lenyap kapan saja  Arungilah lautan dan segala kuasanya Hingga kita menjadi makhluk yang taat untuknya Ikutilah semarak alam semesta dengan nyanyian kita para pelayar Disini mungkin kita masih bisa berdiri tegak meski diterpa Tetapi siapa yang tau kapan saja kita roboh  oleh ajal Menapakkan kaki dengan kuat sama dengan memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh Begitulah nyanyian para pelayar meski diterpa ombak dan badai besar Hingga  kita bisa kembali melambaikan diri p...

MUSIKMU & PUISIKU

  Kala kita menjadi dua  jiwa yang saling menghibur diri Menikmati panggung demi panggung Menyatukan antara musik dan puisi Kamu dengan nadamu dan aku dengan suaraku Menyatu bagaikan takdir Tuhan Seketika setiap nyawa terperenjat diantara kita Mata-mata yang menoleh penuh makna Seakan terbawa mengikuti alurnya  Entah dimana akhir dari musik dan puisi itu Sungguh dunia kala itu ikut menikmati cerita diantara kita Indahnya nada yang mengiringiku berpuisi Melalui petikan senar yang sudah biasa kau mainkan Diantara suaraku yang mengikutinya Akupun ikut menikmati musik dan puisi kita kala itu  Hingga aku bisa lupa Dimana akhir dari bait  puisiku sendiri 

HIRUK PIKUK METROPOLITAN

  Makhluk-makhluknya suka bernyanyi Tak kenal waktu meskipun larut Terlalu ramai dan bising Meskipun dalam sudut-sudut sempit Mereka semua menikmati Kota yang tak pernah sunyi dan sepi Sampai kita lupa pada kesendirian dan menikmati keramaian didalamnya Pernah ada janji diantara kita Untuk sama-sama menikmati hiruk pikuknya Ada alunan musikmu yang indah dan ada lantunan puisiku yang syahdu Bukankah metropolitan harus menyaksikan kita Musik dan puisi yang sama-sama dimainkan Diantara gemerlap lampu-lampu kota Sembari menikmati perjalanan pulang Tapi, sepertinya metropolitan terlalu ramai  Banyak jalan-jalan yang berbeda Kamu dengan arahmu dan aku dengan arahku Hingga kita tak bisa pulang bersama untuk menikmati pertunjukan itu Hiruk pikuk metropolitan akan tetap ada Namun musik, puisi, dan janji kita belum pernah ada  Semoga saja kota ramai ini akan selalu setia menunggu Kita yang sedang dalam perjalan berbeda namun berada pada tujuan yang sama