Langsung ke konten utama

MERATAPI

 


Saat malam yang larut

Pada sudut kesamaran

Di dalam kehampaan

Dan aku ad di sana


Masih di sana

Di tempat yang sama

Merenungi nasib sang diri

Menyaksikan hidupku yang malang


Akankah aku tetap di sana ?

Dengan jarum jam yang terus berdenting 

Dan hati yang masih tak tentu

Walau dinginnya sang malam


Aku ingin berlari

Mencari diriki yang sebenarnya

Menemukan sosok yang hilang dalam kekhilafan

Dan hidup kembali seperti manusia


Aku tak ingin lagi menutup mata

Berpura-pura bisu, tuli, dan lumpuh. 

Aku tak mau lagi dijadikan orang berkalang tanah

Hidup dalam sepi dan belas kasih orang


Mungkin takdirku saja yang berbeda

Tapi aku bodoh jika menyesali itu

Mengalah pun tak guna

Apalagi merintih


Meski sang diri menangis 

Karena takut pada duri 

Tetap kutapakkan kakiku di atasnya

Mengikuti garis hidup sang ilahi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta