Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2024

Puisi Sang Penyair

Kukirimkan sepotong sajak teruntuk dirimu ; Dinda lewat angin sore terhunus di antara udaranya semoga saja dapat terdengar olehmu dari bisik samar-samarnya. Setengah mati aku menciptanya di antara rindu yang mengobrak-abrik perasaan mehantui jiwa dikala raga tak bisa bertemu dan hanya bisa diwakilkan oleh sepotong sajak ini. Selepas sore yang kemudian mendatangkan malam masih saja ada sajakku yang tercipta untukmu ; Dinda. Belum berakhir dan tidak habis terucap rinduku meski waktu-waktu terus memakannya. Kutitipkan lagi pada angin malam sajakku yang tercipta teruntuk dirimu di tengah kekalutan menikmati terpaan kerisaun yang semoga saja besok segera mereda.

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

Aku Lupa

Ingatan pudar dimakan waktu, jalan sirna dalam kisah yang redup. Sudut-sudut lemah  pikiran kembali memberikan bayangan. Aku lupa di antara riuhnya dunia.  Di mata haru dan luput cerita, aku seperti hilang dalam kabut. Dihabisi masa tak bersisa kisah.     Pada lembaran baru yang  terbentang tak berujung. Ingatanpun perlahan terungkap menunjukkan cerita  malang dulu.  Tak mungkin aku lupa,  pada ingatan-ingatan lalu. Meski waktu terus menghabisi  nyawa  yang tertatih-tatih melawan kalah. 

Bertemu Kamu

Pada waktu yang mengantarkan  aku bertemu kamu. Di antara keramain  yang  hanya menghadirkan sunyi. Ketika itulah terdapat kamu  yang datang menghampiri. Bagaikan angin yang merayu dedaunan.  Kehadiranmu mampu  menjadikanku tersipu malu. Sejuknya angin yang menyentuh daun,  sama seperti sapaanmu. Sejenak terpaut kenangan  pertama saat kita bertemu. Pada pertemuan itulah  kamu seperti angin. Dan aku menjadi daun yang  berhasil di pertemukan semesta.   

PERGI

Di senyap malam  menghampiri Bandung. Kisah terpendam dalam  asa yang kini berlabuh. Di bawah langit yang tenang dan senyap dari tidur lelap. Pergi menyusuri jauh rindu di antara titik temu. Seperti lembaran buku yang berpindah selalu ada cerita baru pada halaman berikut. Bagaikan burung yang hinggap meninggalkan ranting pohon untuk terbang lagi. Bandung hanyalah tempat untuk singgah sebelum diri benar-benar pergi.