Kala itu sang malam mulai lenyap. Dia datang dengan menyapa pagi dari langit sebelah timur. Bersama matahari terbit di antara cela-cela langit gelap.
Kedatangannya sudah bisa ditebak. Melalui terangnya yang nyata. Selalu saja ia memberi kesan pada pandang untuk mengenang.
Dia yang selalu saja membayar janjinya. Menyapa dengan caranya sendiri. Mempertaruhkan cahaya untuk hari, menghangatkan sanubari, dan meluk hati yang beku.
Aku yang selalu menantinya meski dia yang selalu berganti. Tetapi tak pernah berubah karena tahu aku bertaruh rindu untuknya. Menunggu di antara malam yang panjang.
Harap yang selalu kutaruh untuknya adalah kembali esok hari. Menyapa lagi dengan rindunya sampai aku lupa untuk berpaling. Bahwa kita telah dimakan oleh waktu.
Begitulah kami yang saling menanti. Perjalanan panjang untuk hanya sekadar menyapa lagi. Hingga ia yang harus kembali di jemput oleh gelap sang malam nanti.

Komentar
Posting Komentar