Langsung ke konten utama

Menanti Fajar


Kala itu sang malam mulai lenyap. Dia datang dengan menyapa pagi dari langit sebelah timur. Bersama matahari terbit di antara cela-cela langit gelap.

Kedatangannya sudah bisa ditebak. Melalui terangnya yang nyata. Selalu saja ia memberi kesan pada pandang untuk mengenang.

Dia yang selalu saja membayar janjinya. Menyapa dengan caranya sendiri. Mempertaruhkan cahaya untuk hari, menghangatkan sanubari, dan meluk hati yang beku.

Aku yang selalu menantinya meski dia yang selalu berganti. Tetapi tak pernah berubah karena tahu aku bertaruh rindu untuknya. Menunggu di antara malam yang panjang. 

Harap yang selalu kutaruh untuknya adalah kembali esok hari. Menyapa lagi dengan rindunya sampai aku lupa untuk berpaling. Bahwa kita telah dimakan oleh waktu.

Begitulah kami yang saling menanti. Perjalanan panjang untuk hanya sekadar menyapa lagi. Hingga ia yang harus kembali di jemput oleh gelap sang malam nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta