Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

MARI PULANG

 Pulang menjadi tujuan kita Akhir dari perjalanan panjang Kata mereka yang punya perjalanan sama denganku Telah jauh jiwa kita beranjak Ternyata tiada tempat yang benar-benar tepat  Selalu rumah yang menunggu kita kembali Raga yang selalu membawa kita berkelana  Nyatanya tiada jalan yang memberi tetap Rumah selalu saja menanti kepulangan Sepertinya sudah saatnya untuk pulang Biarlah kisah kita bumi yang merekam Dengan disaksikan setiap sudut-sudut bagiannya Langkah mengukir jejak begitu dalam Pandang mengukur penglihatan begitu luas Hingga kita lupa apa yang dituju Mari memilih pulang Menidurkan diri dalam pelukan Melupakan segala suka duka yang di perjuangkan

Menanti Fajar

Kala itu sang malam mulai lenyap. Dia datang dengan menyapa pagi dari langit sebelah timur. Bersama matahari terbit di antara cela-cela langit gelap. Kedatangannya sudah bisa ditebak. Melalui terangnya yang nyata. Selalu saja ia memberi kesan pada pandang untuk mengenang. Dia yang selalu saja membayar janjinya. Menyapa dengan caranya sendiri. Mempertaruhkan cahaya untuk hari, menghangatkan sanubari, dan meluk hati yang beku. Aku yang selalu menantinya meski dia yang selalu berganti. Tetapi tak pernah berubah karena tahu aku bertaruh rindu untuknya. Menunggu di antara malam yang panjang.  Harap yang selalu kutaruh untuknya adalah kembali esok hari. Menyapa lagi dengan rindunya sampai aku lupa untuk berpaling. Bahwa kita telah dimakan oleh waktu. Begitulah kami yang saling menanti. Perjalanan panjang untuk hanya sekadar menyapa lagi. Hingga ia yang harus kembali di jemput oleh gelap sang malam nanti.

MERATAPI

  Saat malam yang larut Pada sudut kesamaran Di dalam kehampaan Dan aku ad di sana Masih di sana Di tempat yang sama Merenungi nasib sang diri Menyaksikan hidupku yang malang Akankah aku tetap di sana ? Dengan jarum jam yang terus berdenting  Dan hati yang masih tak tentu Walau dinginnya sang malam Aku ingin berlari Mencari diriki yang sebenarnya Menemukan sosok yang hilang dalam kekhilafan Dan hidup kembali seperti manusia Aku tak ingin lagi menutup mata Berpura-pura bisu, tuli, dan lumpuh.  Aku tak mau lagi dijadikan orang berkalang tanah Hidup dalam sepi dan belas kasih orang Mungkin takdirku saja yang berbeda Tapi aku bodoh jika menyesali itu Mengalah pun tak guna Apalagi merintih Meski sang diri menangis  Karena takut pada duri  Tetap kutapakkan kakiku di atasnya Mengikuti garis hidup sang ilahi

Dari Renjani

  Bagi renjani tidak ada cinta yang sia-sia Selayaknya kata yang hadir dengan  sejuta makna Selalu ada ingin untuk setiap harap yang hadir  Dititipkannya bersama rindu tanpa batas Melalui  lembar bukunya yang ditulis Tetapi tidak dapat disuarakannya begitu saja Renjani terus berjalan pada rasanya Bersama kertas dan pena yang selalu dibawanya Untuk menuliskan besar cinta pada harapannya Hingga ia menemukan bahwa ternya lilinpun dapat padam  Sebab terlalu lama memberikan penerangan Kemudian tanpa sadar lenyap memberikan  gelap Semakin terdalam ternyata renjani semakin terluka  Renjani menitipkan pesan untuk terus berjalan Meski melewati rasa yang berantakan itu Dalam akhir lembarannya tertuliskan kata “Pamit” Ternyata rasa itu hanya sebatas tulisan dari renjani Teruntuk harapnya yang tak bisa disuarakan