Langsung ke konten utama

Ranting-ranting Patah


Aku ada di antara dahan-dahan yang hampir rapuh dihabisi masa. Seandainya waktuku tiba, maka habislah diriku binasa. Tak ada umur abadi yang ku doakan di antara renungan malam.

Bukan lagi aku yang menjadi tempat burung-burung hinggap. Helai-helai daunku jatuh berguguran dinanti tanah. Sedang aku, bukan lagi rindang yang mereka kenal. 

Di antara perkara-perkara semesta, aku adalah ciptaan Tuhan yang mudah lapuk. Lagi-lagi aku merenung pada malam yang tak berujung. Berharap aku adalah makhluk yang juga suci di dunia. 

Pada gemuruh riuh angin yang menyentuhku dan rintik hujan yang selalu jatuh membasahiku. Benarkah aku hanya akan menjadi ranting-ranting yang kemudian patah ?

Pengharapanku belum habis terucap meminta, sesungguhnya tak sanggup aku menemui kematian. Namun, jika pada akhirnya aku patah, mungkinkah dunia akan sukar melepas kepergianku, sang ranting-ranting rapuh ciptaan-Nya. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti Fajar

Kala itu sang malam mulai lenyap. Dia datang dengan menyapa pagi dari langit sebelah timur. Bersama matahari terbit di antara cela-cela langit gelap. Kedatangannya sudah bisa ditebak. Melalui terangnya yang nyata. Selalu saja ia memberi kesan pada pandang untuk mengenang. Dia yang selalu saja membayar janjinya. Menyapa dengan caranya sendiri. Mempertaruhkan cahaya untuk hari, menghangatkan sanubari, dan meluk hati yang beku. Aku yang selalu menantinya meski dia yang selalu berganti. Tetapi tak pernah berubah karena tahu aku bertaruh rindu untuknya. Menunggu di antara malam yang panjang.  Harap yang selalu kutaruh untuknya adalah kembali esok hari. Menyapa lagi dengan rindunya sampai aku lupa untuk berpaling. Bahwa kita telah dimakan oleh waktu. Begitulah kami yang saling menanti. Perjalanan panjang untuk hanya sekadar menyapa lagi. Hingga ia yang harus kembali di jemput oleh gelap sang malam nanti.

Jangan Tinggalkan Aku, Tuhan

Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.

Doa Sebelum Tidur

Tuhan,,, “Tidurkan aku dengan lelap pada malam yang gelap ini “ Hari-hari kujalani dengan kerasnya, h ingga terangnya siang tak lagi semenenagkan dulu. Begitu menakutkan meski hanya kembali terbangun pada dini hari.  Seandainya tertidur selamanya bisa jadi pilihan, mungkin itu adalah inginku. Tuhan,,,, “Lelapkan aku bersama mimpi yang bisa menyenyakkan tidur’’ Tidak perduli malam mulai merangkak menutupi diri. Se tidaknya ia lebih menenagkan dari pada sentuhan siang y ang menggorogoti bukan hanya raga tapi juga jiwa. Hingga rasanya pilihan untuk mengakhiri hari bagaikan bayangannya. Tuhan,,, “Bangunkan saja aku jika takdirku memang sudah begitu adanya” Panjatkanlah aku pada doa-doa yang telah terucap itu.  Kabulkan lah doa pada sebelum tidur ku. Aku,,, tetap menunggu siang dan bayangannya yang memberi tenang.  Sampai nanti, mengakhiri hari bukan lagi inginku.