Langsung ke konten utama

Doa Sebelum Tidur




Tuhan,,,
“Tidurkan aku dengan lelap pada malam yang gelap ini “

Hari-hari kujalani dengan kerasnya, hingga terangnya siang tak lagi semenenagkan dulu.

Begitu menakutkan meski hanya kembali terbangun pada dini hari. Seandainya tertidur selamanya bisa jadi pilihan, mungkin itu adalah inginku.

Tuhan,,,,
“Lelapkan aku bersama mimpi yang bisa menyenyakkan tidur’’

Tidak perduli malam mulai merangkak menutupi diri. Setidaknya ia lebih menenagkan dari pada sentuhan siang yang menggorogoti bukan hanya raga tapi juga jiwa.

Hingga rasanya pilihan untuk mengakhiri hari bagaikan bayangannya.

Tuhan,,,
“Bangunkan saja aku jika takdirku memang sudah begitu adanya”

Panjatkanlah aku pada doa-doa yang telah terucap itu. Kabulkan lah doa pada sebelum tidur ku.

Aku,,, tetap menunggu siang dan bayangannya yang memberi tenang. Sampai nanti, mengakhiri hari bukan lagi inginku. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta