Tidak kutemukan petunjuk arah
di pelabuhan tempat kapal berlabuh.
Namun, aku tetap memilih berlayar mengarungi samudra melewati pasang surut lautan.
Kala itu, aku masih bisu tak berdaya.
Tidak kutemukan tepi
di antara batas gundah gulana
meski riuh suara bumi terdengar.
Masih bayang yang hadir
jauh di pelupuk mata
bersama kapal yang karam
dibentur-bentur oleh ombak lautan.
Menepikan rasa tak terhingga.
Menitipkan luas cinta
sampai sejauh mata memandang
dari beribu bantaran keyakinan.
Komentar
Posting Komentar