Langsung ke konten utama

JUNIKU BERAKHIR



Juni ini penuh luka. Tak seharusnya aku terus berlari. Sesekali mungkin harus berhenti. Jiwa dan ragapun berkata demikian. Meskipun kenyataannya aku tetap harus berlari sebab tak bisa berhenti. 

Bahkan  juni membuatku lupa bahwa aku telah berjuang begitu keras. Sampai perjuangan itu nyatanya jadi tak berarti. Dengan aku yang tak pernah berhenti untuk berlari sekalipun. 

Semakin berdiri ternyata semakin sulit. Kiraku diri ini kuat. Ternyata juga lemah. Entahlah, mungkin diri terlalu memaksa. Atau mungkin aku yang lagi-lagi tak beruntung.

Kau tau apa yang menjadikan juni ini kembali memberi luka ?

Aku yang harus gagal lagi. Mungkinkah aku harus tak menyerah lagi untuk kesekian kalinya. Rasanya menyerah telah menjadi jiwaku. Namun, semakin tak menyerah ternyata semakin membuat sulit raga ini. 

Kepada kita yang selalu merasa gagal, apakah bisa sekali saja kita menyerah ?

Juni terlalu memberi luka yang dalam. Mungkin kita bisa cerita lagi tentang kegagalan ini. Tepatnya setelah juni ini berakhir nanti.


Maaf harus gagal lagi🙂 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta