Langsung ke konten utama

Menyapa Senja



Senja yang indah dan sebuah kepergian. Begitulah makna senja yang selama ini kupahami. Indah namun menyimpan banyak rahasia. Entah bahagia, sedih, marah, atau bahkan takut. Seperti itulah aku yang jika menyapanya. Terkadang tak bisa menunjukkan rupa. Hanya dapat terdiam bisu dengan tanpa akal dan sepi hati dalam setiap ratapan untuknya.

Lalu, jika begitu apa yang harus aku adukan padanya. Apakah tentang hariku yang kemarin, hari ini, atau bahkan tentang kisahku yang belum kutemukan. Tentang kemarin mungkin itu adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Aku yang tak dapat memilih, namun takdir yang berhasil menentukan.

Hari ini senja tetap sama saja. Dia datang menyapa hari. Menghangatkan sanubari. Kemudian pergi jika hari sudah berlalu. Sampai aku yang lagi-lagi tak sempat mengucap salam perpisahan. Aku yang benar-benar hanyut dalam setiap kenyatannya. Bahwa dia harus menghilang dengan warnanya yang jingga ditelan oleh sang pemilik malam.

Namun, hari ini aku menemukan satu lagi makna dari senja. Dia tak benar-benar pergi. Senja akan selalu menyapa langit dan bumi. Tetapi tidak akan pernah mengucapkan selamat tingal. Itulah yang hari ini coba senja ajarkan padaku.

Dalam hidup ini kepergian tidaklah perlu kita sesali. Sebab sesuatu yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita pasti tetap akan kembali. Kecuali itu memang bukan milik kita, maka kita berhak untuk memiliki yang lebih baik.

Sama seperti aku dan senja yang hari ini kembali menyapa. Sepertinya senja kali ini memiliki rupa. Dia tersenyum elok merona. Mewarnai langit, menghiasi bumi, membuat hari lebih indah, dan menjadikanku lebih baik. 

Kutitipkan pesan pada langit dan bumi, teruntuk senja yang hari ini hadir. Berjanjilah untuk selalu menyapa tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kita adalah ciptaan Tuhan yang sama-sama membenci kepergian. Kita akan selalu menanti bersama sang waktu. Kemudian membiarkan takdir menentukan apakah kita berhak untuk saling berjumpa lagi.

Thanks for Jingga🌅



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta