Senja yang indah dan sebuah kepergian. Begitulah makna senja yang selama ini kupahami. Indah namun menyimpan banyak rahasia. Entah bahagia, sedih, marah, atau bahkan takut. Seperti itulah aku yang jika menyapanya. Terkadang tak bisa menunjukkan rupa. Hanya dapat terdiam bisu dengan tanpa akal dan sepi hati dalam setiap ratapan untuknya.
Lalu, jika begitu apa yang harus aku adukan padanya. Apakah tentang hariku yang kemarin, hari ini, atau bahkan tentang kisahku yang belum kutemukan. Tentang kemarin mungkin itu adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Aku yang tak dapat memilih, namun takdir yang berhasil menentukan.
Hari ini senja tetap sama saja. Dia datang menyapa hari. Menghangatkan sanubari. Kemudian pergi jika hari sudah berlalu. Sampai aku yang lagi-lagi tak sempat mengucap salam perpisahan. Aku yang benar-benar hanyut dalam setiap kenyatannya. Bahwa dia harus menghilang dengan warnanya yang jingga ditelan oleh sang pemilik malam.
Namun, hari ini aku menemukan satu lagi makna dari senja. Dia tak benar-benar pergi. Senja akan selalu menyapa langit dan bumi. Tetapi tidak akan pernah mengucapkan selamat tingal. Itulah yang hari ini coba senja ajarkan padaku.
Dalam hidup ini kepergian tidaklah perlu kita sesali. Sebab sesuatu yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita pasti tetap akan kembali. Kecuali itu memang bukan milik kita, maka kita berhak untuk memiliki yang lebih baik.
Sama seperti aku dan senja yang hari ini kembali menyapa. Sepertinya senja kali ini memiliki rupa. Dia tersenyum elok merona. Mewarnai langit, menghiasi bumi, membuat hari lebih indah, dan menjadikanku lebih baik.
Kutitipkan pesan pada langit dan bumi, teruntuk senja yang hari ini hadir. Berjanjilah untuk selalu menyapa tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kita adalah ciptaan Tuhan yang sama-sama membenci kepergian. Kita akan selalu menanti bersama sang waktu. Kemudian membiarkan takdir menentukan apakah kita berhak untuk saling berjumpa lagi.
Thanks for Jingga🌅
Komentar
Posting Komentar