Langsung ke konten utama

Cakrawala Bersedih



Aku sedang tidak baik-baik saja. Sama seperti langit yang hari ini nampak kelam. Mungkin pertanda akan turun hujan atau bahkan pertanda bahwa dia sedang pilu. Namun nyatanya setiap tetes hujan yang diturunkannya adalah berkat. Tetapi tetap saja hujan hari ini membuatku tidak bahagia.

Makhluk lain rupanya nampak beruntung. Mereka menikmati hujan hari ini. Buktinya banyak tawa kecil para manusia terdengar dari sudut bumi seblah sana. Namun kenapa berbeda denganku. Entahlah aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Lebih keperasaan ingin pergi sejauh mungkin dari tempatku berpijak sekarang dan meruap bersama waktu yang terus berlalu. 

Teruntuk kepada sang pemilik cakrawala dapatkah aku mengadu. Tentang diriku yang kehilangan arah untuk menapak. Tentang aku yang hancur karena rapuh. Tentang aku yang luka karena rasa. Dapatkah aku mengadu padamu tentang semua itu. 

Kisahku yang hari ini pasrah ditelan asa. Kurasa tak pantas aku menunjukkan diri. Namun, sepertinya hujan yang membasahi ragaku seolah menyertakan jawaban darimu. Hidupku juga adalah anugrah. Aku dan hujan yang hari ini turun adalah berkah yang diturunkan langit darimu.

Kita haruslah bersyukur bukan. Kedinginan yang tercipta setelah hujan deras sangat menusukku. Seolah memberi arti bahwa kau harus menerima kenyataan. Tetapi bukan itu makna yang paling berarti bagiku, namun kehangatan yang hadir setelahnya. 

Aku masih memiliki kesempatan. Sama seperti kehangatan yang datang setelah dingin menusuk diri. Selalu ada jalan untuk kamu yang tidak pernah menyerah. Sepertinya ragaku harus benar-benar kuat memeluk jiwa yang rentan ini. 

Terimakasih, teruntuk sang pemilik Cakrawala💙


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ranting-ranting Patah

Aku ada di antara dahan-dahan yang hampir rapuh dihabisi masa. Seandainya waktuku tiba, maka habislah diriku binasa. Tak ada umur abadi yang ku doakan di antara renungan malam. Bukan lagi aku yang menjadi tempat burung-burung hinggap. Helai-helai daunku jatuh berguguran dinanti tanah. Sedang aku, bukan lagi rindang yang mereka kenal.  Di antara perkara-perkara semesta, aku adalah ciptaan Tuhan yang mudah lapuk. Lagi-lagi aku merenung pada malam yang tak berujung. Berharap aku adalah makhluk yang juga suci di dunia.  Pada gemuruh riuh angin yang menyentuhku dan rintik hujan yang selalu jatuh membasahiku. Benarkah aku hanya akan menjadi ranting-ranting yang kemudian patah ? Pengharapanku belum habis terucap meminta, sesungguhnya tak sanggup aku menemui kematian. Namun, jika pada akhirnya aku patah, mungkinkah dunia akan sukar melepas kepergianku, sang ranting-ranting rapuh ciptaan-Nya. 

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

Jangan Tinggalkan Aku, Tuhan

Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.