Langsung ke konten utama

Postingan

MENGHITUNG WAKTU

“ Tuhan, masikah ada sisa waktuku ?” seorang hamba bertanya kepada Tuhannya ketika azalnya sedikit di depan mata  Pada saat itu, ia enggan menghitung hari  “Lalu, untuk apa kata-kata yang tidak ada gunanya “ ungkapnya  Masa akan segera menutup namanya Kematian sedang menantinya disebrang Katanta “Jika wafatku telah tiba berikanlah aku do’a untuk mengiringiku” Itulah waktunya untuk berpulang Siapa yang senang dengan kematian ? Sungguh, adakah yang mengiginkan kematian ? Percayalah ; manusia hidup hanya untuk menghitung waktu maka, jadikanlah aku hamba yang  juga taat  jika kematian adalah pilihanmu ; Tuhan

MEMORIA KITA

Pada buku yang kubaca, aku menemukanmu buku berjudul “Melipat Jarak” yang kuseruput dengan secangkir kopi pagi tadi di teras rumah Tidak sengaja terkenang kenangan kita saat membaca buku berdua menjelajahi kedai-kedai kopi untuk sekadar berdiskusi bersama Bagian paling kunikmati ketika kita berbeda pandang mempertahankan paham masing-masing tentang pendirian saling mencintai ; Meski katamu  “Cinta telah membuatmu kalah dari seorang perempuan keras kepala” Kita sama tertawa ketika memegang secangkir kopi aromanya  yang semerbak mulai menebar  diantara cerita kita yang melayang di kedai kopi itulah, memoria cinta kita

HAMPIR RAPUH

~ HAMPIR RAPUH ~ Remuk redam sudah diriku Hancur dan patah diombang ambing Terlululantahkan dari jiwa yang terlena  Terusik dari kepiluan hati  Hampa dan malang yang terasa Tak pernah habis berkesudahan  Tertatih-tataih ragaku membawa luka Penat selalu menemani tangisku yang terisak-isak Patah terhempas kini bisa apa Pupus penantian tak pernah datang damai Luntur harapan bagai episode yang tamat Lantas bisa apa jika tak lagi tangguh Ribuan rasa telah menjadi peluh Mendekap dan bersemayam menemani masa Lirih menelisik membungkam nyawa Terdiam menerima sengsara Merelakan gundah derita yang menerka Mungkinkah aku hanya hampir saja rapuh ?

MERANGKUL DIRI SENDIRI

  Aku,,, Termenung pada jam dinding yang terus berdenting Memutarkan jarum jam yang tak pernah berhenti Menunjukkan waktu yang selalu berlalu Aku,,, Duduk diantara perasaan-perasaan kacau yang mengganggu Menikmati setiap rasa yang terlena Menyadari kemalangan setiap nasib Aku,,, Hampir saja tiada, diantara pilihan-pilihan menjerumuskan diri Memilih hidup kembali atau tidak sama sekali Mengembalikan diri atau menghilang selama-lamanya Aku,,, Lupa, jika aku manusia Sebab banyak yang mengutuk Bahwa aku adalah  iblis Aku,,, Merangkul diri sendiri Memeluk jiwa yang terjolimi Menasehati diri untuk kembali menjadi manusia

PERIHAL JULI YANG KUTEMUKAN

Kutulis puisi ini diakhiri Juli  Setelah semua waktunya berlalu Awalnya, aku ingin menulis tentang puisi indah untuk nya Semakin kutulis bait-bait ku, semakin aku merasa perih yang mendalam Tak dapat aku membohongi diri Ternyata aku tidak sanggup  untuk menulis puisi-puisi indah untuk juli  Kutemukan juli yang penuh sakit, luka, dan kecewa Malangnya diri yang ada pada juli itu Perihal juli, siapa yang menginginkan pengkhianatan ? Hingga bait-bait dari puisiku untuk juli, dipenuhi dengan kata itu Tak ada kesan istimewa untuk juli Jadi, tolong jangan paksakan aku  untuk tetap menulis puisi-puisi indah yang kamu inginkan itu Biarkan saja aku menulis tentang juli yang mengkhianatiku Agar nanti aku bisa menulis lagi puisi-puisi indahku yang dulu Lewat bait-bait yang tertulis dan terucap ini sudah mewakilkan perasaanku bukan ? Aku ingin membiarkan juli pergi  Berakhir dan lekang oleh waktu Kemudian memutuskan derita yang kutemukan  Biarlah juli menjadi kisah yang...

PEREMPUAN

Kamu perempuan,,, Tidak perlu berpendidikan tinggi Apalagi berpengetahuan luas Nikmatilah dapurmu Kamu perempuan,,, Duniamu sempit saja Sebatas katak dalam tempurung Tidak perlu keluar berkelana Terdengar seperti kutukan bukan ? Tapi,,, aku,,, kamu,,, Kita memang perempuan Dari rahimku, rahimmu, terdapat nyawa berkehidupan Kodrat yang katanya milik kita Lantas, kenapa kita tak bisa hidup dengan layak  Tapi,, aku,, kamu,,  Kita memang perempuan,,, Bebas memanglah bukan milik kita Sejak kapan kita dikutuk begini ? Hidup tapi bagai terpenjara, dipasung, dan dirantai oleh  dunia Masih seperti itukah kemerdekaan perempuan yang telah dikorbankan oleh Kartini kita ? “Habis gelap terbitlah terang” Maukah kamu wahai perempuan sekalian Mengikrarkan kembali kemerdekaan itu ? Aku, kamu, kita semua  perempuan  dengan ini mengigkrarkan Kemerdekaan para perempuan dengan menjunjung tinggi hak dan kesempatan yang sama Untuk diri kita, untuk bangsa kita, dan untuk tanah air kita ...

SAJAK DINI HARI

   Dari waktu yang membantu  membangkitkan jiwa karena terlelap Diantara tabir gelap yang menghadirkan fajar secara perlahan Menyadarkan kita makhluk-makhluk bumi dari tidur yang panjang  Sayup-sayup mulai terdengar suara yang sudah biasa datang pada saat itu Memeluk erat tubuh hingga benak para umat-umat yang taat  Menjadikannya sebuah panggilan dari sang pemilik waktu Meskipun, mungkin bumi  masi tetap sunyi dan senyap Dari kebanyakan makhluk-makhluknya masih terlelap begitu dalam Karena mengira belum waktunya untuk membangunkan diri dari tidur Padahal permulaan hari telah dimulai Ditandakannya dengan waktu-waktu yang menunjukkan dini hari Mungkinkah kelalaian ini akan abadi bersemayam dalam diri ? Padahal sajadah sudah siap tergerai menunggu lantunan dzikir-dzkir makhluk bumi Menanti kedua sujud dan uluran telapak tangan para umat Diantara dini hari yang senantiasa bersimpuh pada sajak-sajak untuk Tuhan