Langsung ke konten utama

PERIHAL JULI YANG KUTEMUKAN




Kutulis puisi ini diakhiri Juli 

Setelah semua waktunya berlalu

Awalnya, aku ingin menulis tentang puisi indah untuk nya

Semakin kutulis bait-bait ku, semakin aku merasa perih yang mendalam

Tak dapat aku membohongi diri


Ternyata aku tidak sanggup  untuk menulis puisi-puisi indah untuk juli 

Kutemukan juli yang penuh sakit, luka, dan kecewa

Malangnya diri yang ada pada juli itu

Perihal juli, siapa yang menginginkan pengkhianatan ?

Hingga bait-bait dari puisiku untuk juli, dipenuhi dengan kata itu


Tak ada kesan istimewa untuk juli

Jadi, tolong jangan paksakan aku 

untuk tetap menulis puisi-puisi indah yang kamu inginkan itu

Biarkan saja aku menulis tentang juli yang mengkhianatiku

Agar nanti aku bisa menulis lagi puisi-puisi indahku yang dulu


Lewat bait-bait yang tertulis dan terucap ini sudah mewakilkan perasaanku bukan ?

Aku ingin membiarkan juli pergi 

Berakhir dan lekang oleh waktu

Kemudian memutuskan derita yang kutemukan 

Biarlah juli menjadi kisah yang kututup melalui puisi ini 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ranting-ranting Patah

Aku ada di antara dahan-dahan yang hampir rapuh dihabisi masa. Seandainya waktuku tiba, maka habislah diriku binasa. Tak ada umur abadi yang ku doakan di antara renungan malam. Bukan lagi aku yang menjadi tempat burung-burung hinggap. Helai-helai daunku jatuh berguguran dinanti tanah. Sedang aku, bukan lagi rindang yang mereka kenal.  Di antara perkara-perkara semesta, aku adalah ciptaan Tuhan yang mudah lapuk. Lagi-lagi aku merenung pada malam yang tak berujung. Berharap aku adalah makhluk yang juga suci di dunia.  Pada gemuruh riuh angin yang menyentuhku dan rintik hujan yang selalu jatuh membasahiku. Benarkah aku hanya akan menjadi ranting-ranting yang kemudian patah ? Pengharapanku belum habis terucap meminta, sesungguhnya tak sanggup aku menemui kematian. Namun, jika pada akhirnya aku patah, mungkinkah dunia akan sukar melepas kepergianku, sang ranting-ranting rapuh ciptaan-Nya. 

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

Jangan Tinggalkan Aku, Tuhan

Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.