Langsung ke konten utama

PERIHAL JULI YANG KUTEMUKAN




Kutulis puisi ini diakhiri Juli 

Setelah semua waktunya berlalu

Awalnya, aku ingin menulis tentang puisi indah untuk nya

Semakin kutulis bait-bait ku, semakin aku merasa perih yang mendalam

Tak dapat aku membohongi diri


Ternyata aku tidak sanggup  untuk menulis puisi-puisi indah untuk juli 

Kutemukan juli yang penuh sakit, luka, dan kecewa

Malangnya diri yang ada pada juli itu

Perihal juli, siapa yang menginginkan pengkhianatan ?

Hingga bait-bait dari puisiku untuk juli, dipenuhi dengan kata itu


Tak ada kesan istimewa untuk juli

Jadi, tolong jangan paksakan aku 

untuk tetap menulis puisi-puisi indah yang kamu inginkan itu

Biarkan saja aku menulis tentang juli yang mengkhianatiku

Agar nanti aku bisa menulis lagi puisi-puisi indahku yang dulu


Lewat bait-bait yang tertulis dan terucap ini sudah mewakilkan perasaanku bukan ?

Aku ingin membiarkan juli pergi 

Berakhir dan lekang oleh waktu

Kemudian memutuskan derita yang kutemukan 

Biarlah juli menjadi kisah yang kututup melalui puisi ini 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta