Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang Hampa

Bersama lara aku disini. Sunyi yang datang bak sahabat sejati dalam diri. Mencoba menenagkan hati dan jiwa yang sedang luka. Sepertinya lagi-lagi ragaku sedang tidak baik-baik saja.  Keheningan kembali menjadi tempatku untuk berlari. Disinilah seharusnya tempatku yang sedang pilu. Menghilang sesaat dari dunia yang selalu mengutuk diri.  Di tempat ini dunia seakan menjadi hitam tanpa warna-warnanya. Namun, ketenangan bisa hadir dari sini bersama kehangatan yang datang menyapa.  Tak mengapa jika hanya aku dan kehampaan yang berada dalam dimensi ini. Waktu bisa kembali memulihkan kami.  Bersama duka yang terus berlalu aku memeluk diri yang malang. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri dalam ruang ini. Berharap tak pernah menyerah dengan kelamnya dunia. Kita tak perlu takut menghadapinya. Selama langit masi tetap jadi tempat bernaung dan tanah sebagai tempat berpijak maka dunia adalah milik kita bersama. Thank you for never giving up🖤  

Cakrawala Bersedih

Aku sedang tidak baik-baik saja. Sama seperti langit yang hari ini nampak kelam. Mungkin pertanda akan turun hujan atau bahkan pertanda bahwa dia sedang pilu. Namun nyatanya setiap tetes hujan yang diturunkannya adalah berkat. Tetapi tetap saja hujan hari ini membuatku tidak bahagia. Makhluk lain rupanya nampak beruntung. Mereka menikmati hujan hari ini. Buktinya banyak tawa kecil para manusia terdengar dari sudut bumi seblah sana. Namun kenapa berbeda denganku. Entahlah aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Lebih keperasaan ingin pergi sejauh mungkin dari tempatku berpijak sekarang dan meruap bersama waktu yang terus berlalu.  Teruntuk kepada sang pemilik cakrawala dapatkah aku mengadu. Tentang diriku yang kehilangan arah untuk menapak. Tentang aku yang hancur karena rapuh. Tentang aku yang luka karena rasa. Dapatkah aku mengadu padamu tentang semua itu.  Kisahku yang hari ini pasrah ditelan asa. Kurasa tak pantas aku menunjukkan diri. Namun, sepertinya hujan yang memb...

Menyapa Senja

Senja yang indah dan sebuah kepergian. Begitulah makna senja yang selama ini kupahami. Indah namun menyimpan banyak rahasia. Entah bahagia, sedih, marah, atau bahkan takut. Seperti itulah aku yang jika menyapanya. Terkadang tak bisa menunjukkan rupa. Hanya dapat terdiam bisu dengan tanpa akal dan sepi hati dalam setiap ratapan untuknya. Lalu, jika begitu apa yang harus aku adukan padanya. Apakah tentang hariku yang kemarin, hari ini, atau bahkan tentang kisahku yang belum kutemukan. Tentang kemarin mungkin itu adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Aku yang tak dapat memilih, namun takdir yang berhasil menentukan. Hari ini senja tetap sama saja. Dia datang menyapa hari. Menghangatkan sanubari. Kemudian pergi jika hari sudah berlalu. Sampai aku yang lagi-lagi tak sempat mengucap salam perpisahan. Aku yang benar-benar hanyut dalam setiap kenyatannya. Bahwa dia harus menghilang dengan warnanya yang jingga ditelan oleh sang pemilik malam. Namun, hari ini aku menemukan satu lagi makna dari...