Langsung ke konten utama

Diantara Tangisan Pluto




Jauh di alam semesta sana

Terdapat bintang paling kecil 

Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya 

Cahayanya bisa terang bisa meredup


Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta

Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan

Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta

Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita


Dunia mengusirnya untuk pergi

Mengutuknya pada kesendirian

Mencampakannya dengan kesunyian 

Menghapusnya  dalam tulisan sejarah 


Selamanya dia akan jauh

Tak akan pernah terjangkau

Perlahan terlupakan 

Bahkan, Meskipun kematiannya datang 


"Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi.