Langsung ke konten utama

HIRUK PIKUK METROPOLITAN

 


Makhluk-makhluknya suka bernyanyi

Tak kenal waktu meskipun larut

Terlalu ramai dan bising

Meskipun dalam sudut-sudut sempit


Mereka semua menikmati

Kota yang tak pernah sunyi dan sepi

Sampai kita lupa pada kesendirian

dan menikmati keramaian didalamnya


Pernah ada janji diantara kita

Untuk sama-sama menikmati hiruk pikuknya

Ada alunan musikmu yang indah

dan ada lantunan puisiku yang syahdu


Bukankah metropolitan harus menyaksikan kita

Musik dan puisi yang sama-sama dimainkan

Diantara gemerlap lampu-lampu kota

Sembari menikmati perjalanan pulang


Tapi, sepertinya metropolitan terlalu ramai 

Banyak jalan-jalan yang berbeda

Kamu dengan arahmu dan aku dengan arahku

Hingga kita tak bisa pulang bersama untuk menikmati pertunjukan itu


Hiruk pikuk metropolitan akan tetap ada

Namun musik, puisi, dan janji kita belum pernah ada 

Semoga saja kota ramai ini akan selalu setia menunggu

Kita yang sedang dalam perjalan berbeda namun berada pada tujuan yang sama



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta