Langsung ke konten utama

Nyanyian Para Pelayar

 


Lambaikan tanganmu untuk daratan 

Perjalanan berlayar akan segera dimulai

Jangkar kita tak lagi menancap 

Karena raga kita akan mulai menjemput badai

Jadikanlah pelayaran ini bak pertempuran dengan diri


Biar ragamu tau betapa dalam lautnya

Dan betapa luas langitnya 

Agar kita tak mudah sirna sebagai makhluk yang lalai

Biarkan debur ombak kesana kemari memainkan kapalmu

Melululantahkan jiwamu yang angkuh 


Mengira penguasa ternyata tak memiliki kuasa

Tidak mampu sadar bahwa diri bisa lenyap kapan saja 

Arungilah lautan dan segala kuasanya

Hingga kita menjadi makhluk yang taat untuknya

Ikutilah semarak alam semesta dengan nyanyian kita para pelayar


Disini mungkin kita masih bisa berdiri tegak meski diterpa

Tetapi siapa yang tau kapan saja kita roboh  oleh ajal

Menapakkan kaki dengan kuat sama dengan memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh

Begitulah nyanyian para pelayar meski diterpa ombak dan badai besar

Hingga  kita bisa kembali melambaikan diri pada daratan nanti 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ranting-ranting Patah

Aku ada di antara dahan-dahan yang hampir rapuh dihabisi masa. Seandainya waktuku tiba, maka habislah diriku binasa. Tak ada umur abadi yang ku doakan di antara renungan malam. Bukan lagi aku yang menjadi tempat burung-burung hinggap. Helai-helai daunku jatuh berguguran dinanti tanah. Sedang aku, bukan lagi rindang yang mereka kenal.  Di antara perkara-perkara semesta, aku adalah ciptaan Tuhan yang mudah lapuk. Lagi-lagi aku merenung pada malam yang tak berujung. Berharap aku adalah makhluk yang juga suci di dunia.  Pada gemuruh riuh angin yang menyentuhku dan rintik hujan yang selalu jatuh membasahiku. Benarkah aku hanya akan menjadi ranting-ranting yang kemudian patah ? Pengharapanku belum habis terucap meminta, sesungguhnya tak sanggup aku menemui kematian. Namun, jika pada akhirnya aku patah, mungkinkah dunia akan sukar melepas kepergianku, sang ranting-ranting rapuh ciptaan-Nya. 

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

Jangan Tinggalkan Aku, Tuhan

Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.