Langsung ke konten utama

Nyanyian Para Pelayar

 


Lambaikan tanganmu untuk daratan 

Perjalanan berlayar akan segera dimulai

Jangkar kita tak lagi menancap 

Karena raga kita akan mulai menjemput badai

Jadikanlah pelayaran ini bak pertempuran dengan diri


Biar ragamu tau betapa dalam lautnya

Dan betapa luas langitnya 

Agar kita tak mudah sirna sebagai makhluk yang lalai

Biarkan debur ombak kesana kemari memainkan kapalmu

Melululantahkan jiwamu yang angkuh 


Mengira penguasa ternyata tak memiliki kuasa

Tidak mampu sadar bahwa diri bisa lenyap kapan saja 

Arungilah lautan dan segala kuasanya

Hingga kita menjadi makhluk yang taat untuknya

Ikutilah semarak alam semesta dengan nyanyian kita para pelayar


Disini mungkin kita masih bisa berdiri tegak meski diterpa

Tetapi siapa yang tau kapan saja kita roboh  oleh ajal

Menapakkan kaki dengan kuat sama dengan memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh

Begitulah nyanyian para pelayar meski diterpa ombak dan badai besar

Hingga  kita bisa kembali melambaikan diri pada daratan nanti 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

KENANGAN KOTA BOGOR

Sejenak Bogor menjadi pelarian. Bersembunyi dari bayang-bayang kejam dunia. Meski awalnya tak semeyenangkan itu. Tetapi Bogor ternyata mampu mengembalikan tawa kita yang tulus. Tidak benar-benar utuh seperti semula. Namun nyawaku kembali bersama orang-orang yang memiliki tawa yang sama. Rasanya ingin aku abadi disini.  Bogor, kelak tolong berikan aku alasan untuk kembali. Berikan aku pilihan untuk bisa mendatangimu. Sederhana saja inginku untuk bisa bertemu lagi.  Kutitipkan separuh nyawaku disini. Biarlah dia selalu bisa menikmti hujanmu dengan tulus. Sehingga tidak perlu merasa bahwa hujan semenyedihkan itu. Mungkin akan lama waktuku menemui pergi. Kereta untuk menjemputku tiba. Tak harus ada tangis yang menemani. Bogor sudah mengajarkan bagaimana cara kita tertawa lagi. 

Diantara Tangisan Pluto

Jauh di alam semesta sana Terdapat bintang paling kecil  Ikut berlarian bersama bintang-bintang lainnya  Cahayanya bisa terang bisa meredup Dulu, dia begitu bahagia di alam semesta Hingga pada akhirnya, dibuang dan dicampakan Dulu, dia yang sering tertawa pada alam semesta Sampai pada akhirnya, menangis dan menderita Dunia mengusirnya untuk pergi Mengutuknya pada kesendirian Mencampakannya dengan kesunyian  Menghapusnya  dalam tulisan sejarah  Selamanya dia akan jauh Tak akan pernah terjangkau Perlahan terlupakan  Bahkan, Meskipun kematiannya datang  "Mungkinkah, Tuhan juga bisa menciptakan kesiasiaan ?" Tanyanya pada semesta