Langsung ke konten utama

Jejak Asa


Terkadang takdir membingungkan. Jalan yang ada di depan mata kita belum tentu takdir yang terbaik. Setiap langkah yang kita pilih bahkan mudah saja menjatuhkan pada kehancuran. Namun kemudian dunia seakan menuntut untuk selalu bangkit lagi.

Lantas bagaimana untuk kita yang telah berusaha bangkit namun hilang arah. Telah banyak tumpuan yang kita pacu. Berjuta harapan kita rajut. Berjalan bersama asa dan karsa. Sehingga jika hanya bangkit saja tidak cukup untuk kita memulai kembali.

Kita yang pada hari ini kehilangan arah. Dapatkah kita berjanji pada jiwa dan raga untuk selalu baik-baik saja. Sanggupkah kita menciptakan harapan kembali. Kuatkah kita berjalan lagi pada takdir yang tak tentu.

Aku berharap kita hanya tak akan takut saja. Sebab kegagalan kemarin pasti adalah mimpi buruk untuk kita semua. Mimpi yang sesaat dapat mematikan jiwa. Melenyapkan asa yang kembali terharap.

Pasti akan ada satu waktu dimana kita akan bangga pada diri kita sendiri. Perihal kita yang tidak pernah mau mengalah. Selalu mau bangkit berdiri lagi sebab kita tau ada sebuah harapan yang sedang menanti.

Hidup adalah sebuah pertaruhan. Tidak akan pernah ada jaminan untuk kita besok bisa menang atau kalah. Kita hanya harus terus berjuang saja.

Teruntuk kita yang pernah sama terluka, mungkin kita dapat saling mengenggam dalam satu harap yang sama😊


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ranting-ranting Patah

Aku ada di antara dahan-dahan yang hampir rapuh dihabisi masa. Seandainya waktuku tiba, maka habislah diriku binasa. Tak ada umur abadi yang ku doakan di antara renungan malam. Bukan lagi aku yang menjadi tempat burung-burung hinggap. Helai-helai daunku jatuh berguguran dinanti tanah. Sedang aku, bukan lagi rindang yang mereka kenal.  Di antara perkara-perkara semesta, aku adalah ciptaan Tuhan yang mudah lapuk. Lagi-lagi aku merenung pada malam yang tak berujung. Berharap aku adalah makhluk yang juga suci di dunia.  Pada gemuruh riuh angin yang menyentuhku dan rintik hujan yang selalu jatuh membasahiku. Benarkah aku hanya akan menjadi ranting-ranting yang kemudian patah ? Pengharapanku belum habis terucap meminta, sesungguhnya tak sanggup aku menemui kematian. Namun, jika pada akhirnya aku patah, mungkinkah dunia akan sukar melepas kepergianku, sang ranting-ranting rapuh ciptaan-Nya. 

Pada Awal dan Akhir Puisiku

  Aku berada dalam setiap sajak yang hadir untuk menemani masa di awal puisi yang tercipta untukmu. Selagi sajakku ada, maka aku akan tetap bernafas memberi hidup pada puisi-puisi yang tercipta.  Maka bacalah sajakku, Di antara waktu-waktu yang berkenan kau kehendaki. Aku akan selalu ada dalam setiap masa untuk menciptakan puisi untukmu meski di waktu-waktu terakhir sekalipun. Puisiku akan selalu hidup  menemanimu dengan tahun-tahun yang lebih lama lagi. Maka berusahalah untuk tetap hidup sampai nanti waktunya, agar masih dapat kau baca setiap sajakku.  

Jangan Tinggalkan Aku, Tuhan

Di antara dosa-dosaku, pada hari-hari yang membayang duka. Masih adakah ampunan, wahai Tuhan ? Seandainya langit runtuh, bumi hancur, dan manusia binasa. Akankah penyesalanku masih berkesempatan ? Teruntuk raga yang tak sanggung lagi berjalan pada dunia. Serta nyawa yang hampir terbunuh oleh akhir takdir. Apakah doaku masih dapat terijabah ? Aku hampir berjalan pada detik-detik kematian yang merenggut diri. Tuhan, aku lupa mengucap syukur pada waktu-waktu hidupku. Dapatkah aku, berdoa untuk terakhir kalinya ? Dalam bisikan lirih yang penuh harap, aku memohon, jangan tinggalkan aku Tuhan. Di penghujung jalan hidup yang rapuh, izinkan aku pulang dalam damai-Mu.